Optimis di titik Terendah

523445_3573770219950_637433328_n Jogja – Pagi ini seperti mengingat beberapa tahun silam, saat pagi buta mata dan jemari masih menatatap lentik jemari yang menari diatas keyboard laptop. Dan saat fajar datang mata sudah mulai redup seperti sang kelelawar kembali kesarang, pikiran-pikiran penat pun terselimuti antara matarahi ujung timur sampai ujung barat. Seperti lari dari kenyataan mengumpulkan sisa-sisa semangat untuk menyelesaikan gelar sarjana komputer yang hampir 8 tahun, pagi ini seperti terlintas semua hal-hal yang membuat kenapa saya menghabiskan waktu begitu lama di perjalanan rantauan yang sudah jauh terasa.

Satu keyakinan yang membuat saya bertahan, jangan menyerah dan putus asa serta yakin bahwa ini adalah proses. Proses dimana saya tidak boleh menyerah dan putus asa, andai saya harus berhenti sampai disini dan lari dari keadaan tentu saya menjadi orang yang kalah, dan saya harus membayar masa-masa kemalasan itu dengan sebuah penyesalan tentunya. Hal yang terbaik saya lakukan sekarang ialah bertahan dan melakukan yang terbaik disetiap lingkungan aktifitas saya, meski ketakutan paling besar sering datang ialah gagal dari perjuangan.

Tentu ini bukan keadaan yang sangat mengenakan, dimana segala sesuatu berubah dan berbeda di tempat dan waktu yang berbeda. Suport atau dukungan dari beberapa pihak seperti keluarga pun berubah, dimana di tuntut untuk mandiri dan mampun menyelesaikan sendiri amanah untuk menyelesaikan study. Sehingga saat berada di titik terendah saya rasakan dimana satu-satu orang yang menggap kita saudara menjauh satu-satu seperti memberikan ruang untuk melewati hal terberat sendiri. Hal ini bukanlah alasan bijak untuk mengkambing hitamkan keadaan untuk menyerah, justru ini adalah proses menurut saya, dimana kita bisa mengukur diri, menyikapi dan menyelesaikan sebuah konflik yang di hadapi. Sehingga pada titik nya nanti kita akan sadar, tahu dan belajar banyak dari zona ketidak nyamanan itu untuk bagaimana kita harus menetukan sikap dan memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan diri maupun kepentingan orang lain kedepannya.
Dan yang terakhir ialah saat kita tersadar berlari atupun melangkah terlalu jauh, dimana merasakan semuanya tak sesuai dengan rencana, merasa diri berdiri berada dalam kegelapan, sikap optimis serperti terkikis dengan kelemahan dan optimis seperti terkubur masalah. Kita harus benar-benar sadar ada sang pemilik kuasa Allah SWT penjaga manusia baik saat dalam terjaga atapun tidak untuk mengangkat titik terendah optimis tersebuy. Hal yang lain kita butuhkan juga ialah keyakinan untuk mendengarkan suara hati kecil saat berbicara, menasihati dan di ikuti. soal waktu seberapa lama proses itu kita lewati kita harus percaya dan yakin bahwa itulah proporsi waktu dan kemampuan yang Allah berikan untuk kita lewati dengan sebaik-baiknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s